Senin, 10 Maret 2014

Hubungan Assesmen dan Pembelajaran


A. Fungsi Asesmen Dalam Pembelajaran Asesmen merupakan bagian yang penting di dalam proses pembelajaran di dalam bidang studi apapun. Asesmen hendaknya dibedakan dari pengukuran prestasi belajar. Pengukuran prestasi belajar menyangkut pengumpulan informasi tentang prestasi murid-murid melalui tes dan lembar kerja, sedangkan asesmen merupakan konsep yang lebih luas yang mencakup penilaian profesional pendidik, perasaan dan pengamatan, serta informasi-informasi lain yang anda kumpulkan dari lingkungan belajar.
Ditinjau dari fumgsinya asamen dapat dibagi atas 4 bagian, yakni : 1.Sebagai alat untuk merencanakan, pedoman , dan memperkaya pembelajaran IPA di kelas.
2.Sebagai alat komunikasi dengan murid – murid, administrator dan orang tua murid, tentang pentingnya IPA.
3.Sebagai alat untuk memonitor hasil belajar IPA dan perbaikan pembelajaran.
 4.Sebagai alat untuk memperbaiki kurikulum dan pengajaran IPA.
B. Jenis-jenis Asesmen Menurut Tujuan Ada tiga jenis asesmen menurut tujuan asesmen yaitu tujuan diagnostik, tujuan formatif, dan tujuan sumatif. Jenis Asesmen      Saat Asesmen Alasan Asesmen Cara Pelaksanaan Asesmen Diagnostik Formatif Sumatif              Sebelum pembelajaran Selama pembelajaran Setelah pembelajaran      Mendeteksi kebutuhan murid mendeteksi miskonsepsi, dan apa-apa yang sudah dan yang belum diketahui murid;. Untuk mendapat balikan segera untuk memodifikasi pembela-jaran konsep, atau membimbing murid dalam menyelesaikan tugas. Terutama untuk mengumpulkan nilai, mengases berapa banyak yang diserap murid.        Empat cara :
1.Tes tertulis (tes pensil & kertas)
2.Laporan tertulis proyek yang dikerjakan murid.
3.Portofolio
4.Observasi guru dan kinerja murid.
C. Peranan Asesmen Diagnostik Tes tertulis dapat dipergunakan untuk melaksanakan tes diagnostik. Tes semacam ini disebut prates atau pretes. Cara lain untuk melaksanakan tes diagnostik adalah secara lisan. Baik secara tertulis maupun secara lisan keduanya sangat tergantung kepada rumusan pertanyaan yang disusun oleh guru untuk menghasilkan asesmen yang baik. Asesmen diagnostik dapat membantu guru mengidentifikasi minat kelebihan dan kelemahan murid dalam bidang studi IPA. Data diagnostik juga dapat membantu guru untuk melihat apakah seorang murid memerlukan bantuan dalam belajar atau tidak. Di samping itu data diagnostik dapat juga memberi informasi tentang perbedaan-perbedaan cara belajar murid. Jika pembelajaran sudah berlangsung maka tanggung jawab adalah mengupayakan agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik sebab proses pembelajaran tersebut mengacu kepada hasil tes diagnostik. Murid-murid akan berprestasi lebih baik jika guru memberi tes diagnostik sebelum melaksanakan pembelajaran satu unit pelajaran, dan menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan hasil tes diagnostik. (Hastings, dan Steward, 1983 dalam Carin, 1993).
D. Asesmen Formatif Dalam Pembelajaran Kadang – kadang diperlukan asesmen di tengah-tengah pembelajaran bila guru merasakan bahwa murid-murid mendapat kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang sukar, maka sebaiknya diadakan asesmen mendapatkan data bagaimana caranya untuk memodifikasi sebagian atau keseluruhan pembelajaran. Asesmen formatif juga dapat dilaksanakan bila murid-murid kehilangan arah dalam menyelesaikan tugas. Teknik asesmen sangat tergantung kepada kebutuhan murid dan pertimbangan guru. Asesmen dapat dilaksanakan untuk perorangan atau kelompok. Jenis tesnya dapat berbentuk lisan atau tulisan, atau dapat juga berbentuk unjuk kinerja murid terutama untuk penguasaan keterampilan proses IPA.
E. Asesmen Sumatif Dalam Pembelajaran Aesmen ini dilakukan terutama untuk mendapatkan nilai akhir, untuk menjaring data seberapa banyak dari bahan pelajaran yang dapat dipahami oleh murid-murid, sebelum beralih ke pokok bahasan berikutnya. Dalam hal ini peranan asesmen sumatif erat hubungannya dengan tujuan pembelajar, tujuan pembelajaran merupakan satu komponen yang penting. Pada umumnya buku teks IPA dan garis besar pokok pengajaran IPA memuat tujuan umum pembelajaran. Dari tujuan umum pembelajaran ini dapat dirumuskan tujuan khusus pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang jelas akan memudahkan perancangan asesmen. Ranah kognitif masih tetap mendapat penekanan khusus dalam tujuan pembelajaran meskipun pakar-pakar pendidikan IPA memasukkan ranah afektif dan psikomotor.
Menurut Bloom ada enam tingkatan intelegensia dalam ranah kognitif, yaitu :
1.Pengetahuan tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip
2.Pemahaman (memahami fakta-fakta dan ide-ide)
3. Penerapan (menerapkan fakta dan ide pada situasi baru)
4.Analisa (memecahkan/membagi konsep dalam bagian-bagiannya kemudian melihat hubungannya satu sama lain)
5.Sintesa (mengumpulkan fakta-fakta dan ide-ide).
6.Evaluasi (menentukan nilai dari fakta-fakta dan ide-ide) Dari tingkat intelegensia yang pertama yaitu pengetahuan dan pemahaman dikategorikan ke dalam golongan berpikir tingkat rendah, sedangkan keempat tingkat intelegensia berikutnya dikategorikan ke dalam golongan berpikir tingkat tinggi. Sebelum menguasai dua tingkat intelegensia yang pertama., anak belum mampu menunjukkan penguasaan tingkat intelegensia keempat berikutnya.
F. Asesmen Dalam Ranah Kognitif Cara-cara pelaksanaan asesmen dalam ranah kognitif dapat dibagi atas 6 bagian yaitu :
1.Mempergunakan tes tertulis atau tes pensil dan kertas Cara yang paling umum untuk mengetahui prestasi murid sesudah proses pembelajaran adalah dengan tes tertulis atau pensil dan kertas. Meskipun aspek pengetahuan dalam ranah kognitif merupakan aspek yang paling penting mendapat penekanan, sering kali penyusunan tes tertulis yang baik untuk aspek ini mempunyai kesulitan tersendiri, oleh karena itu tidak ada salahnya jika di sini dibahas dahulu oleh murid. Sebagai langkah pertama hendaknya ditentukan tujuan khusus pembelajaran, kemudian disusun bentuk tes. Bentuk tes dapat berupa pertanyaan sederhana yang memerlukan jawaban sederhana, atau yang agak rumit berbentuk pilihan ganda. Tes tertulis mempunyai kelemahan-kelemahan sehingga sebaiknya dilengkapi dengan bentuk tes yang lain. Kelemahan tes tertulis adalah tidak dapat dipakai untuk mentes murid dalam keterampilan proses IPA sebab dalam hal ini murid memperagakan kemampuan menerapkan satu atau lebih keterampilan berdasarkan pengetahuan mereka tentang suatu konsep. Kelemahan yang lain adalah hasilnya dengan saat pembelajaran waktunya terpaut cukup jauh sehingga jika diperlukan perubahan-perubahan dalam proses pembelajaran akan terlambat jika hanya mengandalkan pada tes ini.
2.Mempergunakan observasi guru atas kinerja murid Cara lain untuk menilai kemampuan murid adalah mempergunakan pengamatan guru. Kita sebagai guru mengamati murid-murid dan menolong mereka di dalam kelas. Cara yang paling cepat untuk melaksanakan ini adalah dengan mengajukan pertanyaan dan memperhatikan jawaban murid-murid satu demi satu atau kelompok dalam kelompok. Dengan mengajukan pertanyaan yang tepat, kita sebagai guru dapat melihat apakah murid-murid memahami konsep dan proses IPA. Juga dapat dilacak apakah murid-murid mempunyai miskonsepsi dalam IPA sehingga dapat diperbaiki secara dini. Dengan memperhatikan jawaban murid-murid secara cermat kita dapat mengetahui berapa bayak yang mereka pelajari. Untuk mengamati murid-murid secara individual mungkin mengakibatkan kita terbentur pada soal waktu, maka dapat dibuat kelompok-kelompok kecil untuk mata pelajaran IPA. Dan murid-murid dilatih untuk belajar dan bekerja secara kooperatif. Untuk menghindari pengamatan yang tidak menyeluruh, artinya ada murid yang terlewat dari perhatian maka sebaiknya dibuat harta untuk setiap murid baik individu maupun dalam kelompok yang diberi tanda setiap selesai suatu konsep dipahami oleh yang bersangkutan. Pengamatan guru ini dapat dipahami untuk menilai kemampuan murid dalam tingkat intelegensi rendah dan tinggi dalam taksonomi Bloom, jadi tidak hanya aspek pengetahuan dan pemahaman saja, tetapi juga keempat aspek lainnya.
3. Mempergunakan tes gambar-gambar yang dibubuhi sedikit tulisan. Kadang-kadang terjadi murid-murid yang nyata-nyata memahami konsep dalam topik dan berperan serta secara aktif di dalam diskusi kelas ternyata gagal dalam tes tertulis. Dalam kasus seperti ini mungkin gambar dapat dipakai untuk menilai aspek-aspek yang lebih luas dari pada aspek pengetahuan. Klasifikasi, prinsip-prinsip dan teori-teori dapat dites mempergunakan gambar-gambar. Untuk mempersiapkan tes bergambar diperlukan latihan-latihan. Perlu diingat bahwa pemilihan gambar yang komunikatif sesuai dengan kebutuhan akan sangat bermanfaat sehingga tes tidak terlalu mengandalkan kata-kata atau terlalu banyak tulisan.
4. Mempergunakan jurnal murid-murid Dalam pembelajaran IPA sebaiknya murid-murid ditugasi melukis jurnal yang berupa catatan-catatan, pengamatan selama melakukan percobaan-percobaan. Kita dapat meminta murid-murid menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam petunjuk percobaan secara tertulis. Jurnal dapat memperbaiki prestasi belajar IPA dan menulis serta bahasa Indonesia.
5. Mempergunakan peta konsep Peta konsep juga dapat dipakai untuk pengetahuan konseptual murid-murid. Peta konsep adalah alat bantu mengajar agar murid-murid membangun pengetahuan yang saling berhubungan dan pemahaman-pemahaman agar terjadi semata yang berguna. Cara lain untuk menilai atau mengukur pemahaman mempergunakan peta konsep adalah dengan mengosongkan semua kotak dan biarkanlah murid-murid membuat peta konsep mereka sendiri. Dalam pembelajar memakai peta konsep, guru membuat dahulu kerangka peta konsep di papan tulis dan menjelaskan komponen-komponen yang penting untuk pemahaman konsep dengan mempergunakan pengetahuan sebelumnya, percobaan-percobaan, buku teks, guru dan murid melengkapi peta konsep yang terpampang di papan tulis.
6.Portofolio Portofolio adalah kumpulan hasil prestasi murid yang positif. Wadah untuk kumpulan hasil prestasi murid ini mungkin berupa kotak atau msuatu folder atau stopmap folio. Setiap murid mempunyai satu portofolio untuk satu pelajaran atau untuk beberapa mata pelajaran. Isi dari portofolio sangat bervariasi, mungkin berupa hasil ulangan yang baik, karangan yang mendapat nilai baik, atau yang dimuat dalam majalah anak-anak, lukisan yang baik tau yang mendapat nomor kejuaraan. Dapat dikatakan portofolio merupakan berkas kemajuan pribadi milik murid-murid. Manfaat portofolio bagi guru adalah dapat memahami murid lebih mendalam, lebih memahami proses berfikir mereka dan yang terutama portofolio ini merupakan pelengkap untuk asesmen-asesmen yang lain. Bagi murid portofolio ini akan meningkatkan motivasi mereka untuk berpacu dengan dirinya sendiri untuk menjadi yang terbaik serta kemampuan untuk menilai dirinya sendiri secara objektif, sedangkan orang tua juga dapat melihat portofolio anak-anaknya untuk mengikuti perkembangan belajar anaknya, lebih-lebih bila anaknya termasuk murid-murid bermasalah.
 G. Asesment Untuk Kategori Berpikir Tingkat Tinggi Dalam taksonomi Bloom ada enam tingkatan intelegensia dalam ranah Kognitif, yang kemudian di bagi menjadi 2 kategori : yaitu kategori berpikir tingkat rendah (pengetahuan dan pemahaman ), dan yang menurut tinggi menurut Bloom adalah aspek-aspek penerapan, analisa, sintesa, dan evaluasi.Dalam aspek penerapan, murid mempergunakan pengetahuan yang sudah memilikinya untuk di terapkan dalam situasi yang baru yang berbeda dengan situasi yang yang pernah di kenalnya. Pada dasranya kita meminta / memeriksa apakah murid memahami suatu konsep sehingga dapat menerapkan dalam konteks yang lain. Contoh berikut ini merupakan tes penerapan. Kita sudah mempelajari panas terapkanlah pengetahuan pada situasi berikut ini :
a.Sesuai dengan pengetahuan dan pemahamanmu tentang sumber energi mengapa kalimat berikut ini kurang tepat? ” Tutuplah pintu lemari es itu, nanti dinginnya hilangnya ”.
b.Bagaimana kamu memperbaiki kalimat itu supaya tepat ?
c.Dengan mempergunakan ide a dan b bagaimana kamu menjelaskan menyentuh es kering dan mendapat luka bakar ? Asesment keterampilan menganalisis melibatkan pemecahan ide atau pemenggalan ide, kemudian murid di tanya apakah mereka memahamihubungan antara pengalaman. Gambar-gambar kartun , grafik, dapat kita pakai untuk menguji keterampilan menganalisis. Aspek menganalisis terbagi atas analisa unsur-unsur dan analisa sebab-akibat. Asesment aspek evaluasi memerlukan penghabungan antara aspek pengetahuan, aspek pemahaman, penerapan, aspek analisa dan aspek sintesa untuk menunjukan suatu penilaian. Ada dua macam penilaian menirut bukti-bukti atau standar yang mereka tentukan dan penilaian menurut keriteria luar. Salah satu contoh untuk menilai kemampuan mengevaluasi adalah dengan memakai soal pengandaian.
H. Asesemen Dalam Ranah Afektif Ranah kognitif meliputi pengetahuan dan pemahaman secara intelektual. Menurut Bloom ranah afektif mencakup perasaan, emosi, minat, sikap, nilai dan apresiasi. Hal ini erat hubungannya dengan perasaan murid yang mempengaruhi prestasi belajar mereka. Cara yang baik untuk menilai sikap dan perasaan mereka mengamati secara langsung pada waktu mereka bekerja atau pada waktu mereka bermain bersama murid, tidak hanya ketika mengajar atau dengan cara menggunakan daftar pilihan. Untuk mengetahui nilai-nilai yang di miliki murid dapat dipakai pertanyaan-pertanyaan yang mengugah pikiran.Pertanyaan – pertanyaan tersebut di maksudkan untuk merangsang murid-murid memberi tanggapan yang berhubungan dengan nilai.
 I. Asesmen Dalam Ranah Psikomotor Ranah psikomotor menekankan keterampilan – keterampilan motorik atau keterampilan menangani benda- benda atau alat-alat pada waktu melakukan kegiatan percobaan IPA. Untuk ranah psikomotor dapat di buat bagan untuk mengklasifikasi tujuan pembelajaran dalam ranah psikomotor, peserta didik, sebab kita mempunyai kesempatan untuk mengamati keterampilan peserta didik dalam menagani alat-alat atau benda-benda percobaan. Supaya asesmen anda dapat obyektif, spesific, dan dapat di amati, kita dapat membuat daftar pengamatan kinerja murid dan skala penilaian.
 J. Beberapa Tehnik Asesmen Praktis Asesemen kita harus sesuai dengan pembelajaran yang kita laksanakan. Jika kita mengikut sertakan kegiatan eksperimen maka kita harus memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunujukan kinerja dalam keterampilan menangani benda-benda dan alat-alat, untuk menunjukan penguasaan konsep pemikiran ”ilmiyah”, bagaimana ia sampai kepada jawaban, dan hasil percoban yang di laksankannya. Asesmen praktis dapat di pakai untuk menilai keterampilan psikomotor peserta didik, kemampuan dan keterampilan dala memecahkan masalah, serta mengakses tentang perasaan mereka mengenai gejaka yang mereka amati / selidiki dalm percobaan . jawaban peserta didik boleh lisan ataupun tulisan. Kelemaham dari tes atau asesmen praktis adalah :
1.Perlu aalt-alat atau bahan-bahan untuk di otak-atik
2.Perlu tempat khusus untuk pelaksanaan
 3.Persiapan dan perbersihan sesudah pelaksanaan asesmen
4.Waktu yang di perlukan untuk pelaksanaannya yang relatif lama
5.Hanya sedikit dari materi pembelajaran yang dapat di tes
6.Hanya sedikit dari peserta didik yang dapat ditentukan waktunya menyelesaikan asesmen.
Hal-hal berikit ini yang dapat dipakai untuk menilai ranah psikomotor:
1.Belajar dengan alat-alat IPA sederhana misalnya termometer, timbangan, mistar ukur, gelas ukur dan stop watch
2. Untuk kinerja keteramplilan laboratorium dan prosedur, misalnya : menyaring zat, mamaki mikroskop 3.Mengumoulkan data dan merekam data dalam tabel, charta dan grafik yang di buat sendiri oleh murid-murid
4.Mendisain suatu percobaan dan melaksanakanya.misalnya : bagaiman caranya membuat tablet ini melarut dengan cepat.
5.mengajukan pertanyaan yang dapat di tes.
6.Unjuk kinerja dengan alat-alat atau bahan-bahan untukn mendemonstrasikan pemahaman konsep-konsep dan hubungan antar konsep misalnya pemahaman hubungan sirkuit listrik ,atau pemahaman hubungan antar massa, volume dan kerapatan suatu obyek.
7.Membuat model yang menunjukan gejala alam misalnya sel, sisitem tata surya atau strukutur geologi.
8.Mengkomunikasikan proses percobaan baik berupa tulisan individual maupun kerja kelompok

0 komentar:

Posting Komentar